PERAN FISIOTERAPIS PADA KASUS GUILLIAN BARRE SYNDROME: PROBLEM MUSCULOSKELETAL

      I.            Pendahuluan

Guillain Barre Syndrome. Sumber: propelphysiotherapy.com

Belakangan ini kita dihadapkan pada kasus-kasus penyakit yang menyerang sistem imun dan memperlemah sistem kekebalan tubuh. Kasus tersebut biasanya meluas melalui penyebaran virus. Namun lain halnya dengan kasus penyakit yang satu ini, kelainan ini di sebabkan oleh virus yang mengakibatkan sistem imun itu sendiri menyerang serabut myelin pada saraf. Penyakit ini bernama Guillian Barre syndrome.

Guillian Barre Syndrome (GBS) adalah penyakit inflamasi pada Periferal Nervous System dan merupakan penyebab paling umum dari paralisis flaksid akut, dengan insiden global tahunan sekitar 1-2 per 100.000 kasus pertahun (sejvar JJ, 2011). Penyakit ini terjadi akibat penyimpangan imun yang menyebabkan kerusakan saraf perifer, susunan saraf pusat, dan saraf otonom pada tubuh manusia.

Guillain Barre Syndrome. Sumber: emergencymedicinekenya.com

Para pasien biasanya akan mengeluh masalah kelemahan otot sekaligus tanda-tanda sensorik yang menjalar dari tubuh bagian bawah naik hingga tubuh bagian atas. Sekitar 20% kasus GBS mengalami gagal pernafasan dan harus diberikan ventilasi mekanis. Dikatakan pula aritma jantung dan ketidakstabilan tekanan darah juga menjadi salah satu masalah GBS ketika menyerang sistem saraf otonom. (William HJ, 2016).

Meskipun termasuk kasus yang sangat langkah, namun peyakit ini tidak biasa terlepas dari perhatian fisioterapis dalam  hal  penanganannya. Untuk itu fisioterapis perlu mengetahui problem dan program rehabilitasi yang dapat membantu pasien pada masa rehabilitasi.

   II.            Pembahasan

Dari kasus yang telah disebutkan, guiilian barre syndrome terbagi menjadi empat problem yang harus diselesaikan. Selain masalah yang beruhubungan dengan saraf otonom, sensorik, dan kardiopulmonaris. Terdapat masalah musculoskeletal yang harus menjadi perhatian penting seorang fisioterapis dalam upaya mengembalikan fungsi fisik.

Program rehabilitasi bertujuan untuk mengurangi kecacatan. Untuk program latihan pasien dengan GBS dapat melakukan latihan berupa latihan rentang gerak, bersepeda stasioner, serta latihan berjalan dengan kekuatan. Namun perlu diingat untuk tetap mempetimbangkan kekuatan pasien agar tidak terjadi kelelahan yang berlebih. (Simatos Arsinault N, 2016)

1.      Latihan rentang gerak (ROM Ecercise)

ROM Exercise. Sumber: bhaktirahayu.com

Rentang gerak adalah derajat maksimum pergerakan sendi yang bisa dilakukan seseorang pada salah satu dari perpotogan tubuh yaitu frontal, sagital dan transversal.

Latihan rentang gerak aktif, dikatakan sebagai latihan rentang gerak yang aktif apabila pasien bisa melakukan latihan sendiri dengan instruksi dari fisioterapis.

Latihan rentang gerak pasif, apabila pasien latihan dengan bantuan fisioterapi secara langsung dalam menggerakkan sendinya.

Dalam riwayat kasusnya, fisher merupakan penulis pertama yang menerapkan sesi terapi fisik menggunakan ROM. Diamana pada awalnya fisioterapis akan memberikan latihan perkembangan dari ROM pasif melalui AROM (ROM Aktif) yang dihilangkan gravitasinya. Latihan dilakukan untuk ekstremitas atas, bawah dan trunk dengan 5-10 pengulangan. Latihan dihentikan sebelum pasien mengalami kelelahan. Biasanya sekitar 60 menit setiap hari. (Fisher, 2008).

2.      Bersepeda stasioner

Bersepeda stationer. Sumber: tokopedia.com

Alat ini merupakan alat olahraga yang digunakan dengan cara menggayuh sepeda di tempat. Fisioterapis bisa memberikan latihan ini pada pasien yang kesulitan melakukan gerakan sendi pada ekstremitas bawah.

Dalam riwayat kasusnya, tercatat Pitetti,1993, menjadi penulis tunggal pertama yang memaparkan latihan menggunakan sepeda stasioner. Disini penulis memaparkan bahwa SAE (Schwinn Airdyne ergometer), BE (bicycle ergometer), dan ACE (arm-crank ergometer) sebagai alat yang digunakan. Untuk tes ACE, pasien memulai mengengkol lengan dengan kekuatan 10 W setiap 2 menit. Tingkat kerja bisa ditingkatkan 10 W setiap 2 menit. Sedangkan BE dan SAE diberikan latihan dengan beban kerja 25 W selama 2 menit. (Pitetti, 1993)

3.      Latihan berjalan kaki

Berjalan kaki. Sumber: detikhealth.com

Fisioterapis bisa memberikan latihan berjalan untuk meningkatkan kualitas gerak otot dan sendi. Menurut catatan, latihan berjalan kaki dilakukan selama 10 minggu dengan dilakukan 3x / minngu selama 20-27 menit. Pasien dilarang bekerja di atas beban kerja 45% dari catatan SDM maksimal. Berjalan dilakukan di lorong dalam ruangan.. pasien diarahkan untuk berulang kali berjalan kaki di sepanjang lorong yang memiliki panjang 1,6 kilometer. (Karpet, 1991)

Dan dari keseluruhan latihan didapati pasien mengalami peningkatan musculoskeletal yang signifikat. Meskipun presentasi yang dinyatakan berbeda tiap aktivitas tergantung dengan kekuatan dan intensitas latihan. (Karpet WB, 1991 dan Fisher TB, 2008)

III.            Kesimpulan

Guillian Barre Syndrome (GBS) adalah penyakit inflamasi pada Periferal Nervous System dan merupakan penyebab paling umum dari paralisis flaksid akut. Penyakit ini menyebabkan timbulnya infeksi pernafasan, infeksi pencernaan sensitifitas sensasi, dan yang paling umum terjadi adalah kelemahan otot atau bahkan kelumpuhan.

Peran fisioterapi dalam menangani kasus langkah, Guillian Barre Syndrome pada problem musculoskeletal ini dilakukan dengan pemberian terapi latihan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Contohnya adalah  latihan rentang gerak, bersepeda stasioner dan latihan berjalan. Dengan harapan dapat mengurangi kecacatan dan mengembalikan fungsi fisik tubuh.

DOWNLOAD PDF VERSION

IV.            Daftar Pustaka

Leohard SE, Mandarakas MR, Gondim FAA, dkk. Journal. Diagnosis and management of Guillain-Barré syndrome in ten steps. Nat Rev Neurol. 2019 Nov;15(11):671-683. doi: 10.1038/s41582-019-0250-9.

Arsenault NS, Vincent PO, Yu BHS, Bastien R, dkk. Influence of exercise on patients with Guillian Barre Syndrome; A systematic reviuw. Physiother Can. Fall 2016;68(40):367-376. doi; https://dx.doi.org/10.3138%2Fptc.2015-58.

Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *