JUARA 3 ESSAY PIMAF IMFI 2020 [FALL PREVENTION IN ELDERLY DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR EKSTERNAL BERBASIS ENVIROMENTAL FACTOR MODIFICATION]

FALL PREVENTION IN ELDERLY DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR EKSTERNAL BERBASIS ENVIROMENTAL FACTOR MODIFICATION

Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai “Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi”

     

Disusun Oleh:

I Kadek Dwi Widhi Dharma               (171300016)

Ni Wayan Teza Andika                      (171300023)

Ni Luh Anita Chandra Dewi              (18031003)

   

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL

2020

 

Latar Belakang

            Indonesia menjadi salah satu negara berkembang yang akan diprediksi mengalami ledakan jumlah penduduk lansia (lanjut usia) yang dimulai dari awal tahun 2010 sampai dengan 2035 kedepan. Bertambahnya jumlah penduduk lansia ini seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan mutu pelayanan yang diberikan kepada lansia. Namun, realita saat ini adalah kebalikannya, keberadaan lansia kadangkala kurang diperhatikan secara layak baik itu dari pihak internal yaitu keluarganya maupun dari pihak eksternal seperti dukungan dari masyarakat atau pemerintah.

            Lanjut usia atau lansia mengalami kemunduran dalam fungsi fisik maupun fungsi sosial yang dapat membatasi mereka dalam beraktivitas dan dalam menjalin interaksi sosial. Kemunduran fungsi fisik sangat terasa dengan adanya penurunan massa dan kepadatan tulang. Massa dan kepadatan tulang yang berubah akan mempengaruhi bentuk tubuh lansia dan berpengaruh dalam penurunan kemampuan seseorang untuk menjaga keseimbangan sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh pada lansia. Keseimbangan dapat dicapai dengan kerja dari otot-otot dan organ penyeimbang untuk mempertahankan posisi tubuh. Namun, pada lansia juga terjadi penurunan kinerja otot dan adanya gangguan organ penyeimbang seperti mata dan telinga tengah sehingga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh. Sering kali muncul anggapan bahwa jatuh merupakan konsekuensi alami dari menjadi tua, tetapi sesungguhnya jatuh bukan bagian normal dari proses penuaan.

            Jatuh dapat menyebabkan adanya cedera fisik maupun psikologis. Cedera fisik akibat jatuh bisa berupa fraktur, dislokasi, memar, hemarthrosis, dan subdural hematom. Sedangkan secara psikologis, kejadian jatuh yang berulang dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan diri lansia untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Risiko jatuh pada lansia diakibatkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang terus menerus menggerogoti kehidupan lansia.

            Berbagai permasalahan diatas menunjukkan bahwa kejadian jatuh pada lansia merupakan suatu kondisi yang sangat tidak menguntungkan. Keadaan ini harus dapat dihindari demi peningkatan kualitas hidup lansia. Solusi yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pencegahan dini terhadap tingginya risiko jatuh pada lansia. Sehingga penulis memberikan gagasan yaitu Fall Prevention in Elderly Dengan Memperhatikan Faktor Eksternal Berbasis Enviromental Factor Modification.

Urgensi masalah

Secara umum terdapat 5 masalah mendasar yang dihadapi Lansia: (1) lansia mengalami penurunan fungsi fisik dan sosial yang menghambat kehidupan mereka; 2) kurangnya pengawasan dari pihak keluarga sehingga pelayanan yang didapatkan lansia tidak maksimal; (3) Kurangnya pengetahuan terkait pencegahan terjadinya jatuh pada lansia; (4) kurang ramahnya lingkungan penunjang bagi lansia yang menyebabkan tingginya angka resiko jatuh pada lansia; (5) Secara umum lansia belum mengenal apa saja hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya jatuh.

 

Tujuan

Tujuan penulisan adalah: (1) Menganalisis permasalahan lansia di Indonesia akibat adanya penurunan fungsi fisik, psikologis dan social; (2) Memberikan solusi sebagai upaya pencegahan kejadian jatuh pada lansia dengan memodifikasi faktor-faktor eksternal penyebab jatuh pada lansia; (3) Merumuskan cara-cara pencegahan jatuh yang mudah diaplikasikan oleh keluarga dan masyarakat sekitar lansia dilingkungan tempat tinggal.

 

Permasalahan Umum Resiko Jatuh pada Lansia

Peningkatan pertumbuhan jumlah lansia kian tahun semakin meningkat. Perkembangan tersebut mencatatkan angka signifikan dengan grafik yang memuncak. Pada survei proyeksi penduduk lansia tahun 2010-2035 menunjukan bahwa pada tahun 2010 jumlah lanisa berada pada angka 7,56%, berlanjut ke tahun 2019 dan 2020 masing masing 9,7% (25,9 juta jiwa) dan 9,99% (27,1 juta jiwa). Ini menunjukan bahwa indonesia sedang mengarah pada struktur penduduk tua (Aging population) yang mana harus diperhatikan kesejahteraan dan tingkat kualitas kehidupannya baik itu dari segi pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan juga pelayanan kesehatannya. Hal ini menjadi sangat penting karena data menyebutkan bahwa terdapat 67,1% prevalensi cedera akibat jatuh pada lansia dengan rentang usia 65-74 tahun dan meningkat pada usia >75 tahun dengan persentase 78,2%. Fakta ini seharusnya menjadi acuan bagi pemerintah untuk meningkatkan pelayanan geriatric di Indonesia. Rumah sakit harus memiliki pelayanan geriatric dengan fasilitas yang baik dan memadai untuk menunjang pemenuhan pelayanan kesehatan yang berkualitas pada lansia.

Tinjauan Pustaka

Secara global jumlah penduduk lansia di dunia saat ini di perkirakan ada 500 juta jiwa dengan usia rata-rata 60 tahun dan di perkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar jiwa (Bandiyah, 2009). Secara demografi menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 jumlah penduduk di wilayah Indonesia sebanyak 237.641.326 juta jiwa dengan jumlah penduduk lanjut usia sebanyak 18.118.699 juta jiwa dan di perkirakan pada tahun 2020 meningkat menjadi (11,09%) atau 29.120.000 juta jiwa lebih dengan umur harapan hidup menjadi 70- 75 tahun. Peningkatan jumlah lansia akan berdampak pada perubahan status kesehatan yang terkait dengan peningkatan faktor-faktor resiko yang mampu menyebabkan adanya suatu gangguan-gangguan yang akhirnya dapat mencederai lansia tersebut.

Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Secara biologis lanjut usia ialah orang yang mengalami proses penuaan, yang ditandai dengan penurunan fungsi organ-organ, termasuk tulang dan otot. Proses penuaan ini juga menimbulkan adanya perubahan fungsi fisiologis seperti sistem neurologis, sistem sensori, dan muskuloskeletal. Perubahan sistem neurologis berdampak pada perubahan fungsikognitif, penurunan waktu reaksi, masalah keseimbangan dan kinetik serta gangguan tidur (Mauk, 2010). Perubahan fungsi sensori dapat berupa penurunan pada sistem penglihatan, sistem pendengaran dan sentuhan. Perubahan pada sistem muskuloskeletal pada lansia dapat berupa penurunan kekuatan genggaman pada tangan, dan kekuatan pada kaki. Penurunan kekuatan genggaman tangan pada pria berkisar antara 5-15%, penurunan kekuatan kaki pada pria berkisar 20-40%, penurunan kekuatan genggaman pada wanita berkisar antara 10-20%, penurunan kekuatan kaki pada wanita berkisar antara 30-50% dan lansia diperkirakan kehilangan kekuatan otot sebesar 1-3% per tahun (Doherty, 2003 dalam Mauk, 2010).

Perubahan-perubahan tersebutl dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh pada lansia. Keseimbangan tubuh yang terganggu menjadi penyebab ketidakmampuan bagi lansia dalam mempertahankan posisi dan stabilitasnya baik dalam kondisi statis ataupun dinamis. Gangguan keseimbangan inilah faktor utama dari timbulnya kejadian jatuh pada lansia. Jatuh adalah suatu keadaaan yang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa disengaja serta dapat menimbulkan adanya cedera yang tak berarti sampai cedera serius pada lansia.

Kejadian jatuh sebagai dampak langsung dari adnaya penurunan keseimbangan pada lansia dapat diminimalisasi dengan adanya faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yang dapat menjadi penghambat terjadinya gangguan keseimbangan adalah dengan jalan melakukan latihan-latihan untuk memperkuat fungsi neurologis, fungsi sensoris dan fungsi muskuloskeletal. Disamping itu kita dapat meminimalisasi kejadian jatuh dengan memberikan dukungan dari faktor eksternal berupa peningkatan keamanan tempat tinggal lansia, penggunaan alat bantu jalan bila perlu, penggunaan alas kaki yang sesuai, pengaturan penerangan yang memadai dan pengaturan lingkungan rumah yang paling nyaman sebagai standarisasi tempat tinggal lansia. Berbagai faktor eksternal ini dapat kita modifikasi sedemikian rupa sehingga dapat menjadi acuan dalam penurunan risiko jatuh pada lansia.

Environmental Factor Modification sebagai Solusi Pencegahan Jatuh terhadap Lansia.

Perkembangan edukasi resiko dan pencegahan jatuh pada lansia di Indonesia cenderung langka dan kurang edukatif dalam hal preventif dan komunikatif. Sebagian besar edukasi dan studi yang membahas tentang resiko jatuh pada lansia hanya membahas faktor internal semata (Stefani dkk, 2015). Padahal, selain faktor internal juga terdapat faktor eksternal yang menjadi kunci tingginya angka cedera akibat jatuh di Indonesia. Berbagai keterbatasan yang terjadi seperti kurangnya sumber daya manusia yang paham akan hal tersebut, kurangnya edukasi yang didapat oleh keluarga dan lansia serta kurangnya dukungan elemen-elemen terkait menjadi penyebab utama masih tingginya risiko jatuh padalansia. Oleh karna itu, penulis membuat suatu gagasan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia dengan mengambil sudut pandang eksternal dengan nama “Fall Prevention in Elderly Dengan Memperhatikan Faktor Eksternal Berbasis Enviromental Factor Modification” yang dirancang dengan mengambil keadaan sudut pandang kebutuhan lansia saat berada dirumah untuk memudahkan mobilitas dari lansia. Environmental Factor Modification adalah suatu metode yang dilakukan untuk memodifikasi keadaan lingkungan di sekitar tempat tinggal lansia guna memudahkan mobilitas lansia dan mencegah resiko jatuh pada lansia.

Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam Enviromental Factor Modification diantaranya adalah:

Hal yang dibutuhkan lansia, ini menjadi perhatian penting karena modifikasi yang dilakukan harus berdasarkan kebutuhan dasar lansia dan tidak memodifikasi sesuatu yang kurang bermanfaat bagi kebutuhan lansia.

Hal yang membahayakan, hal yang membayakan menjadi perhatian berikutnya, semua hal yang bersifat “mencelakakan” harus secepatnya dimodifikasi seramah mungkin unuk keberadaan lansia dilingkungan tersebut.

Program Environmental Factor Modification (EFM) berfokus pada penyelesaian masalah resiko jatuh pada lansia dengan modifikasi lingkungan. Menurut Carter dkk, menyebutkan bahwa hal yang meningkatkan cedera pada lansia adalah lantai yang licin, pijakan yang tinggi dan alat keselamatan di lingkungan yang kurang. Hal ini didukung oleh (Huang dkk, 2005) yang menyebutkan bahwa resiko jatuh pada lansia akan semakin tinggi disebabkan oleh kurangnya pencahayaan, lantai, area penyimpanan, furnitur, karpet, pelengkapan listrik dan saklar, handrail, serta gerbang masuk. Environmental Factor Modification (EFM) berkokus pada modifikasi faktor lingkungan untuk mempermudah kehidupan lansia. Mofikasi lingkungan yang dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman sebagai berikut:

Pengaturan pencahayaan, hal ini menjadi sangat penting karna sebagian besar lansia mengalami penurunan fungsi pengelihatan yang menyebabkan berkurangnya keseimbangan dan kemampuan mengenal lingkungan sekitar. Pencahayaan dapat dilakukan dengan memberikan penerangan pada tempat yang gelap, tempat yang memiliki rintangan saat mobilisasi deperti anak tangga, karpet dan lain sebagainya.

Lantai, modifikasi pada lantai juga penting dilakukan karna pemilihan lantai yang aman menjadi faktor keselamatan lansia. Pemilihan lantai yang tidak licin jika terkena air, sirup atau kuah makanan sangat membantu mengurangi resiko lansia dari terpeleset saat berjalan.

Karpet, pemasangan karpet pada rumah juga menjadi salah satu faktor penyebab jatuh pada lansia. Pemasangan karpet juga harus diikuti dengan maintenance yang baik. Hal ini dikarenakan karpet yang berlubang dan menganga di sisi sisinya menebabkan lansia dapat tersandung. Modifikasi yang dapat dilakukan dapat memestikan tidak terdapat lubang dan menutup bagian karpet yang menganga dengan isolasi agar lansia tidak tersandung saat berjalan.

Area penyimpanan, tempat penyimpanan barang dalam rumah harus sesuai dengan standar ergonomis yang meperhatikan prosedur keselamatan. Modifikasi yang dapat dilakukan adalah membuat semua hal yang menjadi kebutuhan lansia menjadi terjangkau oleh lansia. Hal yang harus diperhatikan adalah tinggi tubuh lansia, panjang jangkauan lansia, jarak tubuh dengan objek yang ingin dicapai dan faktor penghambat lainya yang bisa dimodifikasi lebih sederhana.

Furnitures, penempatan dan pemeriharaan terhadap peralatan dan hal hal yang berada dirumah harus diperhatikan dan dapat melakukan modifikasi pada hal hal tersebut. Hal yang dapat dimodifikasi seperti adanya sudut sudut tajam, anak tangga yang terlalu tinggi, jalanan yang curam dan licin dan lain sebagainya dapat dimofikasi dengan lebih aman untuk keselamatan lansia.

Perlengkapan listrik, kejadian lansia tersengat listrik dan kemudia terjatuh bukan jarang kita temuai. Hal ini disebabkan oleh tidak amanya perlengkapan kelistrikan yang berada dirumah. Hal yang harus diperhatikan adalah tempat alat listrik tersebut serta letak dari saklar lampu. Letak saklar lampu berhubungan dengan keadaan lansia tersebut. Usahakan saklar lampu harus berada dekat dengan lanisa sehingga lansia yang rentan akan jatuh tidak harus berdiri dan berjalan untuk memperoleh saklar tersebut. Hal ini akan menurunkan resiko jatuh pada lansia.

Handrail, modifikasi penempatan handrail dapat ditambahkan pada tempat tempat yang merupakan kemungkinan besar lansia akan jatuh pada area tersebut. Contohnya pemasangan handrail pada toilet, pemasangan pada tempat tidur, pemasangan pada dinding rumah saar berjalan dan tempat beresiko lainya.

Kesimpulan dan rekomendasi

            Environmental Factor Modification (EFM) mampu menjadi terobosan terbaru dalam upaya penurunan risiko jatuh pada lansia. Pencegahan yang dilakukan bisa menjadi edukasi bagi lansia dan keluarga dalam mengurangi risiko terjadinya jatuh pada lansia.

             Environmental Factor Modification (EFM) dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan tenaga kesehatan dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal lansia yang aman dan nyaman sehingga dapat meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup lansia.

 

DOWNLOAD PDF VERSION

 
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *