JUARA 2 ESSAY PIMAF IMFI 2020 [KOMBINASI LATIHAN FISIK DAN KESEIMBANGAN DENGAN PEMANFAATAN GAWAI DALAM PENCEGAHAN JATUH PADA LANSIA]

LOMBA ESSAY PEKAN ILMIAH MAHASISWA FISIOTERAPI INDONESIA (PIMAF) FALL FREVENTION FOR GERIATRIC 2020

KOMBINASI LATIHAN FISIK DAN KESEIMBANGAN DENGAN PEMANFAATAN GAWAI DALAM PENCEGAHAN JATUH PADA LANSIA

 

Diusulkan Oleh:

Desti Kurniawati

NIM. PO. 71.4.241.17.1.045

Muhammad Ihsan Akib

NIM. PO. 71.4.241.17.1.024

Priscilia Domia Pobuti

NIM. PO. 71.4.241.17.1.070

 

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR

2020

   

Kombinasi Latihan Fisik dan Keseimbangan dengan Pemanfaatan Gawai dalam Pencegahan Jatuh pada Lansia

Pendahuluan

Lansia dengan risiko jatuh bukanlah hal yang sedikit terjadi di dunia maupun di masyarakat Indonesia sendiri. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi cidera akibat jatuh pada usia 65-74 tahun sekitar 67,1% dan pada usia 75 tahun keatas sekitar 78,2% persen.[1] Angka tersebut terjadi karena banyaknya faktor baik intrinsik maupun ekstrinsik.

Fisioterapi sebagai profesi kesehatan yang salah satunya menangani pelayanan kesehatan kepada lansia juga tak luput dalam peran pencegahan jatuh pada lansia. Berfokus dalam perbaikan fungsi gerak dan kualitas hidup pada lansia dengan melakukan terapi dan anjuran-anjuran aktivitas yang dapat dilakukan dan yang sebaiknya tidak dilakukan lansia.

Dalam hal keberpihakan terhadap lansia dan promosi gaya hidup aktif, kebijakan kesehatan di Indonesia sudah sesuai dengan isu dunia kebijakan kesehatan global. Sebagai bagian dari komunitas dan kesehatan di Indonesia, fisioterapi harus mampu berkontribusi sesuai lingkup kompetensi fisioterapi : 'gerak dan fungsi' dan keahlian fisioterapi : 'excercise expert'.[2]

Kasus di Indonesia banyak terjadi karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pencegahan risiko jatuh pada lansia. Tidak sedikit lansia yang berfikir hidupnya sudah tidak dapat produktif lagi, sehingga menganggap jatuh adalah hal yang wajar pada dirinya. Kesadaran ini adalah hal utama yang harus kita berikan sebagai fisioterapi kepada lansia juga kepada keluarga yang menjaganya. Hingga selanjutnya lansia dapat merasakan pengaplikasian pencegahan dari fisioterapi terhadap risiko jatuh pada lansia.

Guna turut andil dalam menurunkan prevalensi jatuh pada lansia, fisioterapi dapat memerankan tugasnya sebagai salah satu profesi kesehatan. Fisioterapis dapat memberikan edukasi maupun pencegahan langsung pada lansia dengan melakukan pemeriksaan dan memberikan latihan-latihan untuk pencegahan risiko jatuh. Namun perlu diingat fisioterapis juga dapat memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan ilmunya, selain mempermudah, hal ini dapat menjangkau sasaran lebih luas serta dapat mengenalkan fisioterapi kepada khalayak.

Dilansir dari survei penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tahun 2017 pada usia 50 - 65 tahun sebanyak 50,79% merupakan pengguna telepon pintar dan 54,50% merupakan pengguna telepon 2G.[3] Semakin berkembangnya teknologi kebanyakan dari lansia juga ada di dalamnya, hal ini membuktikan bahwa lansia juga membutuhkan perkembangan teknologi dalam kehidupannya. Bercermin pada fenomena ini, memanfaatkan penggunaan gawai sebagai salah satu media dalam pencegahan jatuh pada lansia dapat dilakukan oleh fisioterapi sebagai pengembangan keahliannya.

Pemanfaatan Gawai yang Semakin Diminati

            Gawai dalam KKBI berarti peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis; gadget,[4] semakin hari semakin diminati semua kalangan dan usia, dimana gawai memiliki begitu banyak manfaat dalam berbagai segi aspek kehidupan sehari-hari manusia. Selain sebagai sarana informasi juga dapat digunakan sebagai sarana dalam memudahkan suatu pekerjaan. Pada masa sekarang ini, hampir seluruh kegiatan manusia didukung dengan bantuan internet yang tersedia di gawai.

            Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah penguna aktif smartphone di Indonesia telah lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan  menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.[5]

            Berbagai manfaat dan kegunaan yang ditawarkan oleh gawai ternyata juga dimanfaatkan oleh lansia, tidak sedikit lansia pada masa sekarang mulai aktif dalam penggunaan gawai. Secara umum, lansia menggunakan gawai sebagai media komunikasi, sumber informasi dan hiburan, atau orang tua yang masih bekerja menggunakan gawai sebagai salah satu alat penunjang pekerjaannya, ataupun gawai dimanfaatkan untuk meng-update kemampuannya dibidang teknologi. Lebih dari itu, lansia yang makin kecil lingkup sosialnya juga akan mendapat manfaat sosial dari gawai.

            Kecanggihan teknologi saat ini memungkinkan lansia bertatap muka dengan keluarganya yang berada jauh di tempat lain sehingga dapat memberi ‘nutrisi’ bagi jiwa para lansia yang tinggal jauh oleh sanak keluarganya sehingga dapat sedikit menepis rasa kesepian yang sering kali menjadi momok bagi para lansia.

Peran Gawai dalam Pelayanan Fisioterapi

            Dari segi manfaat, gawai juga dapat memberi banyak manfaat dalam dunia kesehatan terutama memberikan informasi-informasi seputar kesehatan, sehingga informasi mengenai kesehatan bukan hal yang sulit lagi untuk diketahui oleh masyarakat.

            Besarnya jumlah pengguna gawai di Indonesia dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan terutama dalam bidang fisioterapi untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemberian layanan fisioterapi. Terdapat banyak layanan kesehatan yang dapat dilakukan oleh fisioterapis dengan berbasis teknologi gawai seperti media yang menyediakan sarana virtual sehingga antara pasien dan fisioterapis tetap dapat melakukan interaksi meskipun tidak secara langsung.

            Di tahun 2020 ini telah terjadi suatu pandemi yang menyebar ke seluruh dunia, tak elak Indonesia pun terkena pandemi ini. Pandemi tersebut menyebabkan berbagai aktivitas mengalami kelumpuhan dan menyebabkan banyak kerugian diberbagai sektor, tak elak sektor kesehatan yang paling terdampak dimana pandemic ini disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 atau yang lebih dikenal dengan nama Covid-19 yang menyebabkan diterapkannya pembatasan sosial atau social distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Adanya pembatasan sosial ini berdampak besar pada mobilitas masyarakat yang akhirnya harus melakukan berbagai kegiatan dari rumah. Dari keadaan ini maka pemberian layanan kesehatan terkhusus layanan fisioterapi pun juga mengalami hambatan dan juga banyak tenaga fisioterapis yang akhirnya difokuskan untuk melayani pasien-pasien yang terkena virus yang sedang merebak di seluruh dunia ini termasuk di Indonesia.

Sehingga kami berfikir untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini sebagai salah satu solusi dalam terhambatnya pelayanan kesehatan, terutama layanan fisioterapi sehingga dapat dikembangkan sebagai sarana kesehatan jangka panjang yang memudahkan kontrol pada lansia ataupun pemberian intervensi dan edukasi-edukasi secara virtual namun mudah dipahami dan dilakukan secara mandiri.

Memberikan Kombinasi Latihan dan Kontrol Melalui Daring

Ada bukti tingkat tinggi bahwa exercise mengurangi risiko jatuh. Sebuah tinjauan sistematis terbaru mengungkapkan bahwa ada efek yang lebih besar pada pengurangan jatuh yang diperoleh dari program latihan yang mencakup melatih keseimbangan yang lebih tinggi dan dosis exercise yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa program aktivitas fisik untuk orang dewasa yang lebih tua harus mencakup komponen pencegahan jatuh seperti exercise yang melatih keseimbangan.[6]

            Pertama fisioterapis mengunjungi lansia dan memberikan instruksi dan edukasi tentang pencegahan risiko jatuh dan pelaksanaan latihan fisik dan latihan keseimbangan yang perlu dilakukan disertai brosur untuk memperjelas. Tidak hanya ditujukan untuk lansia tetapi juga orang yang menjaga lansia tersebut patut untuk memahami. Pengawasan dilakukan secara daring baik melalui paggilan telepon maupun aplikasi yang dapat dibuat untuk memonitor aktivitas lansia tersebut.

            Dosis latihan akan di desain sedemikian rupa sesuai kemamapuan lansia tersebut saat dilakukan pemeriksaan dan pengukuran. Fisioterapis akan memantau perkembangan lansia secara daring dan mendengarkan keluhan pasien serta memberikan saran baik dengan pasien itu sendiri maupun penjaga yang mengawasinya. Tidak hanya itu, fisioterapis juga dapat memberikan praktik latihan secara visual melalui vidio dan tentu saja tetap dalam pengawasan penjaga lansia tersebut. Hal ini juga mendapat pendampingan secara langsung dengan kurun waktu seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali tergantung tingkat risiko jatuh yang dimiliki lansia.

Latihan yang dilakukan adalah kombinasi latihan fisik dan latihan keseimbangan, lansia akan diminta melakukan aktivitas fisik seperti melakukan senem, berjalan mengitari halaman, atau bersepeda. Fisioterapis juga memberikan praktik gerakan yang dapat meningkatkan keseimbangan lansia. Memberikan saran-saran agar lansia dapat melakukan aktivitas kesehariannya dengan maksimal dan istirahat yang cukup.

            Praktik ini dapat melatiah menimbulkan rasa lebih percaya diri pada para lansia dengan merasa lebih sering diperhatikan dan didengar keluhannya, ia akan merasa dapat lebih produktif tanpa susah payah bertanya hanya pada saat sesi latihan tatap muka saja. Hal ini dapat mengembalikan suasana hati lansia tersebut dan memotivasinya untuk lebih produktif. Pelaksanaan yang rutin dan terkontrol merupakan tujuan terlaksananya program ini.

Biaya yang Relatif Murah Sehingga Dapat Menjangkau Banyak Kalangan

Pembinaan kesehatan adalah intervensi yang relatif murah dan dapat mendorong perubahan gaya hidup untuk memerangi ketidakaktifan dengan mengupaaykan pencapaian tujuan, perakapan yang memotivasi, dan strategi prilaku kognitif. Pembinaan kesehatan telah terbukti menjadi intervensi yang menjanjikan untuk mendukung pasien untuk meningkatkan manajemen diri, motivasi, dan self-efficacy. Ini dapat dimasukkan sebagai bagian dari program aktivitas fisik, dengan manfaat untuk lansia dengan berbagai kondisi kesehatan.[7]

Selain hal-hal yang sudah disampaikan diatas pemanfaatan media gawai ini juga lebih menghemat biaya. Terjaungkaunya biaya tentu akan menambah peminat untuk mengikuti program ini. Jika fisioterapi dapat menjangkau lebih banyak kalangan, kita dapat menekan jumlah prevalensi jatuh pada lansia dan dapat mengenalkan fisioterapi pada khalayak ramai.

Kesimpulan

            Memberikan kombinasi latihan fisik dan latihan keseimbangan adalah pilihan tepat dalam pencegahan jatuh pada lansia. Pelaksanaan ini dapat meminimalisir terjadinya jatuh dan meningkatkan kesadaran pada lansia tentang pentingnya latihan fisik dan latihan keseimbangan untuk kebutuhannya. Pemanfaatan media gawai menambah efektivitas dalam pelaksanaan tersebut. Selain mempermudah, hal ini dapat dikontrol dengan frekuensi yang lebih sering sehingga dugaan yang didasari dengan keluhan atau gejala yang baru muncul dapat terdeteksi dan cepat ditangani. Biaya yang relatif terjangkau juga menjadi hal yang dapat memberi kesempatan pada khalayak luas, sehingga dapat menekan prevalensi jatuh pada lansia terutama di Indonesia. Fisioterapi juga dapat dikenal oleh masyarakat lebih luas sebagai salah satu profesi yang berkompeten di bidangnya.

 

Referensi:

[1] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

[2] https://www.ifi.or.id/2019/03/fisioterapi-geriatri.html

[3] Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia © 2017

[4] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/gawai

[5] https://kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media

[6] Tiedemann A, Paul S, Ramsay E, O’Rourke S, Chamberlain K, Kirkham C, et al. What is the effect of a combined physical activity and fall prevention intervention enhanced with health coaching and pedometers on older adults’ physical activity levels and mobility-related goals? Study protocol for a randomised controlled trial. BMC Public Health. 2015;15:477.

DOWNLOAD PDF VERSION

Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *