JUARA 1 ESSAY PIMAF IMFI 2020 [GO-BALANCE: APLIKASI DIGITAL LATIHAN PENINGKATAN KESEIMBANGAN DENGAN KOMBINASI MUSIK SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF YANG PRAKTIS, EKONOMIS, DAN MENYENANGKAN TERHADAP KEJADIAN JATUH PADA LANSIA]

GO-BALANCE: APLIKASI DIGITAL LATIHAN PENINGKATAN KESEIMBANGAN DENGAN KOMBINASI MUSIK SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF YANG PRAKTIS, EKONOMIS, DAN MENYENANGKAN TERHADAP KEJADIAN JATUH PADA LANSIA

 

Oleh:

Muammar Ihsan                      1802541003

Ni Luh Veni Rahayu               1802541004

 

Universitas Udayana

 

PENDAHULUAN

Lansia didefinisikan sebagai seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun (Peraturan Pemerintah RI No. 43 Tahun 2004). Berdasarkan infografis Analisis Lansia di Indonesia yang dipublikasikan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah lansia di Indonesia diprediksi akan melonjak hingga 33,69 juta jiwa pada tahun 2025. Di setiap pertambahan jumlah penduduk, tentu saja ada hal positif, namun ada pula hal negatifnya. Jika kebanyakan dari lansia yang ada di Indonesia memiliki kualitas kesehatan yang baik, maka akan berdampak positif. Sebaliknya, jika lansia memiliki kualitas kesehatan yang buruk, maka hal tersebut akan menjadi masalah serius.

Semakin bertambahnya usia, risiko kehilangan kualitas kesehatan baik secara fisik maupun psikologis pun semakin meningkat, sehingga menyebabkan lansia rentan terhadap penyakit (Gschwind, et al., 2013). Selain penyakit, lansia juga cenderung mengalami penurunan fungsi tubuh. Salah satunya adalah penurunan kemampuan untuk mengontrol postur. Ketidakmampuan untuk mengontrol postur tubuh ini akan membatasi lansia dalam beraktivitas sehari-hari (Dunsky, 2019). Kontrol postur tubuh dipengaruhi oleh 3 sistem tubuh yang saling berintegrasi, yaitu sistem sensoris, sistem kognitif, dan sistem muskuloskeletal. Jika ketiga sistem ini tidak berfungsi dengan baik, maka lansia tidak dapat mengontrol postur tubuh sehingga membuat lansia mudah terjatuh (Dunsky, 2019).

Jatuh merupakan kejadian ketika seseorang bertumpu ke permukaan yang lebih rendah, tanah, atau lantai secara tidak terduga (Tiedemann, et al., 2013). Menurut WHO, tiap tahunnya, sebanyak 28%-35% lansia berusia 65 tahun atau lebih mengalami kejadian jatuh dan meningkat menjadi 32%-42% pada lansia berusia lebih dari 70 tahun. Kejadian jatuh yang dialami lansia pun dapat menyebabkan berbagai cedera dan bahkan kematian (World Health Organization, 2008). Jika dilihat berdasarkan data yang telah disebutkan meliputi prediksi peningkatan jumlah lansia di Indonesia, persentase kejadian jatuh, dan kerugian yang ditimbulkan, maka tindakan pencegahan terhadap kejadian jatuh pada lansia sangatlah diperlukan.

Tindakan pencegahan kejadian jatuh pada lansia dapat dilakukan dengan memberikan program latihan peningkatan keseimbangan. Latihan peningkatan keseimbangan efektif untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia (Kuptniratsaikul, et al., 2011). Namun, tidak semua lansia mengerti manfaat dari diberikannya latihan peningkatan keseimbangan dan mengetahui cara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan latihan tersebut. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2015, sebanyak 27,84% lansia tidak melakukan berobat jalan. Dari data tersebut, dapat diasumsikan bahwa program latihan peningkatan keseimbangan termasuk ke dalam pelayanan kesehatan sejenis (berobat jalan). Alasan dari sebagian besar lansia untuk tidak melakukan berobat jalan dikarenakan merasa mampu merawat kondisi kesehatannya sendiri (54,06%) dan tidak memiliki biaya (51,12%), serta sebagian kecil merasa tidak perlu (23,02%).

Berdasarkan permasalahan di atas, salah satu solusi yang dapat diberikan adalah dengan membawa program latihan peningkatan keseimbangan ke “rumah” masing-masing lansia yang dikemas dalam bentuk aplikasi digital, yaitu GO-Balance. GO-Balance berisi panduan latihan untuk meningkatkan keseimbangan yang dikombinasikan dengan musik. Selain itu, juga terdapat berbagai edukasi mengenai pentingnya latihan keseimbangan dan tips terkait hal-hal yang dapat diterapkan guna mencegah jatuh pada lansia. GO-Balance akan menjadi solusi yang praktis, ekonomis, dan menyenangkan sehingga sangat tepat digunakan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia.

ARGUMENTASI

Di Indonesia, masih banyak lansia yang mengesampingkan masalah kesehatan. Tercermin dari data SUSENAS tahun 2015 yang menjelaskan bahwa kebanyakan lansia enggan untuk melakukan berobat jalan dengan alasan dapat merawat kesehatan secara mandiri, tidak memiliki biaya, dan merasa tidak perlu. Padahal, semakin bertambahnya usia, risiko untuk mengalami sakit dan penurunan fungsi tubuh semakin meningkat. Hal ini diperburuk dengan pengetahuan masyarakat (termasuk lansia) terkait akses ke fasilitas kesehatan. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018 mengenai kemudahan akses ke rumah sakit, sebanyak 36,9% masyarakat Indonesia merasa sulit dan 26% merasa sangat sulit untuk mendapatkan akses ke rumah sakit. Kesulitan akses tersebut didasari oleh 3 faktor yaitu jenis transportasi, waktu tempuh, dan biaya transportasi ke fasilitas kesehatan. Hanya 37.1% masyarakat yang merasa bahwa akses ke fasilitas kesehatan bisa dijangkau dengan mudah. Hal tersebut tentu saja akan mempersulit lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Permasalahan yang dihadapi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan guna mengurangi risiko jatuh belum tuntas. Lansia diharuskan pula mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pelayanan tersebut. Dikarenakan asuransi kesehatan seperti BPJS, hanya akan mengizinkan pemberian layanan fisioterapi ke pasien secara rujukan berjenjang yang dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Terlebih lagi, kemungkinan untuk mendapatkan rujukan dengan tujuan latihan peningkatan keseimbangan sangatlah kecil, sebab pelayanan kesehatan yang diinginkan lebih bersifat preventif. Alhasil, agar bisa mendapatkan pelayanan tersebut secara langsung, lansia diharuskan mengeluarkan biaya di klinik fisioterapi atau fasilitas kesehatan lain yang menyediakan pelayanan fisioterapi. Tentu biaya yang dikeluarkan tidak murah, mengingat latihan peningkatan keseimbangan idealnya dilakukan secara berkesinambungan. Hal tersebut mengharuskan lansia berkunjung beberapa kali ke pelayanan fisioterapi hingga program latihan terselesaikan.

Dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dialami lansia untuk mengetahui dan merasakan manfaat latihan keseimbangan, tercetus ide untuk mengembangkan sebuah aplikasi digital bernama GO-Balance. GO-Balance adalah aplikasi digital yang berisi panduan latihan keseimbangan untuk lansia yang dapat digunakan melalui telepon pintar atau laptop. Aplikasi ini juga dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan minat lansia dalam melakukan latihan keseimbangan sebagai tindakan pencegahan utama terhadap kejadian jatuh. Seperti yang diketahui bahwa kejadian jatuh pada lansia dapat menyebabkan cedera anggota tubuh hingga kematian. Maka dari itu, GO­-Balance hadir sebagai solusi yang sangat bermanfaat untuk mengurangi risiko jatuh bagi lansia.

GO” dalam GO-Balance adalah kependekan dari Gold in Old yang memiliki makna bahwa seseorang pada usia lanjut masih bisa merasakan “masa keemasannya” dengan mampu melakukan aktivitas secara mandiri yang didasari oleh “Balance” yaitu kemampuan keseimbangan tubuh yang mumpuni. Makna ini selaras dengan tujuan aplikasi GO-Balance yang mengampanyekan bahwa kemampuan keseimbangan tubuh sangat diperlukan bagi lansia khususnya dalam mengurangi risiko jatuh. Latihan keseimbangan dalam GO-Balance juga dipadukan dengan musik yang diharapkan mampu meningkatkan antusiasme dan minat lansia untuk melakukan latihan, sebab musik dapat mengalihkan pikiran dari emosi negatif, meningkatkan suasana hati positif dan rileksasi (Grau-Sánchez, 2017). Musik yang digunakan dalam latihan keseimbangan berupa lagu-lagu terkenal yang digemari oleh lansia yang melakukan latihan keseimbangan.

Halaman utama GO-Balance memuat menu panduan latihan keseimbangan, edukasi pentingnya latihan keseimbangan, dan tips mengenai hal-hal yang dapat diterapkan untuk mencegah kejadian jatuh pada lansia. Dalam aplikasi juga tertera kontraindikasi untuk melakukan latihan yaitu jika lansia memiliki penyakit neurologis, nyeri pada persendian yang dirasakan terus-menerus, penyakit kardiovaskuler yang parah, dan gangguan muskuloskeletal. Ketika memilih menu “Latihan Keseimbangan” terdapat daftar latihan. Latihan keseimbangan yang disertakan ke dalam GO-Balance merupakan latihan yang sudah terbukti untuk meningkatkan keseimbangan pada lansia dalam penelitian Cho, et al (2014). Terdapat 5 macam latihan yaitu side stepping, tandem walking, retro walking, braiding, dan one-leg stance. Sebelum memulai latihan, lansia akan memilih lagu yang sudah tersedia. Lagu yang disertakan pada GO-Balance merupakan lagu-lagu terkenal yang sekiranya digemari oleh lansia pada masa mudanya, seperti lagu “Bunga di Tepi Jalan” milik Koes Plus atau lagu “Gereja Tua” milik Panbers. Setelah memilih lagu, maka latihan dapat dimulai.

Saat latihan dimulai, terdapat animasi peraga di layar telepon pintar atau laptop yang digunakan. Posisi awal tubuh dari animasi peraga tersebut harus diikuti oleh lansia yang hendak melakukan latihan keseimbangan. Lagu yang sudah dipilih akan berputar dengan sendirinya. Kemudian lansia akan mengikuti setiap pergerakan animasi peraga dengan tempo lambat hingga latihan tersebut selesai. Pada tiap macam latihan keseimbangan terdapat 3 set dengan 10 kali repetisi tiap set, serta 30 detik waktu istirahat antar set sesuai yang disarankan penelitian Cho, et al (2014). Dalam 1 hari, lansia dianjurkan untuk melakukan 5 macam latihan hingga tuntas dan dilakukan sebanyak 5 hari dalam 1 minggu.

Menu berikutnya di halaman utama GO­-Balance yaitu edukasi mengenai pentingnya latihan keseimbangan bagi lansia. Di menu edukasi ini akan dijelaskan penurunan fungsi tubuh yang cenderung dialami oleh lansia dan dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari. Peningkatan risiko untuk mengalami jatuh pada lansia serta akibat yang dapat ditimbulkan juga akan dijabarkan agar lansia semakin sadar terhadap pentingnya latihan keseimbangan. Kejadian jatuh pada lansia juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain penurunan kemampuan mengontrol postur tubuh. Maka dari itu, dalam GO-Balance tersedia menu mengenai hal-hal yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia sesuai yang dianjurkan WHO dalam WHO global report on falls prevention in older age. Hal-hal tersebut di antaranya tidak mengonsumsi alkohol, mengonsumsi minuman atau makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D, menggunakan alas kaki anti-slip ketika berjalan agar tidak mudah terpeleset, memaksimalkan lampu penerangan khususnya di dalam ruangan agar membantu penglihatan dengan baik, tidak menggunakan mebel atau perabotan yang tidak stabil atau rusak, dan menghindari permukaan yang tidak rata ketika berjalan.

Dalam menggunakan GO-Balance, mulai dari membaca panduan dan memperagakan latihan keseimbangan, memahami edukasi terkait pentingnya latihan keseimbangan, serta menerapkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko jatuh, lansia dianjurkan untuk dibimbing oleh kerabat atau keluarga terutama yang mengerti cara mengoperasikan aplikasi digital. Bimbingan dari kerabat atau keluarga bertujuan agar semua konten yang terdapat di dalam GO-Balance dapat tersampaikan dan diterapkan dengan baik dan tepat oleh lansia. Dengan begitu, manfaat dari aplikasi GO-Balance dapat diperoleh dengan optimal.

KESIMPULAN

GO-Balance dapat menjadi solusi yang praktis, ekonomis, dan menyenangkan sebagai tindakan pencegahan terhadap kejadian jatuh pada lansia. Selama ini, masih banyak lansia yang tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan dari menurunnya fungsi tubuh seiring bertambahnya usia seperti kemampuan untuk mengontrol postur. Kemampuan mengontrol postur tubuh sangat dibutuhkan guna mencegah kejadian jatuh yang dapat menyebabkan cedera anggota tubuh hingga kematian. GO-Balance hadir untuk mengedukasi lansia akan pentingnya hal-hal tersebut. Selain itu, kesulitan yang dialami lansia dalam menjangkau akses pelayanan kesehatan berupa latihan keseimbangan dapat teratasi dengan aplikasi ini, sebab dapat digunakan di mana saja hanya dengan bermodalkan telepon pintar atau laptop. Keunggulan lain yang dimiliki GO-Balance adalah lansia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengetahui penerapan, edukasi, dan manfaat dari latihan keseimbangan. Namun, lansia juga harus dibimbing dengan baik oleh kerabat atau keluarga dalam menggunakan GO-Balance agar semua manfaat bisa dirasakan dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Cho, S.I. and An, D.H., 2014. Effects of a fall prevention exercise program on muscle strength and balance of the old-old elderly. Journal of physical therapy science26(11), pp.1771-1774.

Dunsky, A., 2019. The effect of balance and coordination exercises on quality of life in older adults: a mini-review. Frontiers in aging neuroscience11.

Grau-Sánchez, J., Foley, M., Hlavová, R., Muukkonen, I., Ojinaga-Alfageme, O., Radukic, A., Spindler, M. and Hundevad, B., 2017. Exploring musical activities and their relationship to emotional well-being in elderly people across Europe: a study protocol. Frontiers in psychology8, p.330.

Gschwind, Y.J., Kressig, R.W., Lacroix, A., Muehlbauer, T., Pfenninger, B. and Granacher, U., 2013. A best practice fall prevention exercise program to improve balance, strength/power, and psychosocial health in older adults: study protocol for a randomized controlled trial. BMC geriatrics13(1), p.105.

Info BPJS Kesehatan. 2015.  Tindakan Fisioterapi Disertai Rujukan dari Dokter. Edisi XXIV. Halaman 8. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2017. Analisis Lansia di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hasil Utama RISKESDAS 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

Kuptniratsaikul, V., Praditsuwan, R., Assantachai, P., Ploypetch, T., Udompunturak, S. and Pooliam, J., 2011. Effectiveness of simple balancing training program in elderly patients with history of frequent falls. Clinical interventions in aging6, p.111.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia. 18 Oktober 2004. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 144. Jakarta: Sekretariat Negara.

Tiedemann, A., Sherrington, C. and Lord, S.R., 2013. The role of exercise for fall prevention in older age. Motriz: Revista de Educação Física19(3), pp.541-547.

World Health Organization, World Health Organization. Ageing and Life Course Unit, 2008. WHO global report on falls prevention in older age. World Health Organization.

DOWNLOAD PDF VERSION

Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *