Infantile Idiophatic Scoliosis (Skoliosis pada Anak)

1518101084139

Skoliosis merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. Oleh karena itu disebut Idiophatic Scoliosis. Menurut survey Skoliosis pada Anak memang ada sebagian faktor keturunan, bawaan lahir, tetapi sebagian besar tidak diketahui sebab musababnya. Menurut dr. Ifran Saleh, SpOT (K), penyebab skoliosis terbesar adalah idiopatik atau belum diketahui. “Namun, ada beberapa teori yang muncul. Di antaranya, kelainan hormon melatonin, otot lurik, jaringan lunak, trombosit, maupun faktor biokimia lain,” pada saat acara seminar skoliosis oleh ISC (Indonesia Scoliosis Community) di Jakarta. Skoliosis sering terdeteksi secara tidak sengaja. Untuk mengetahui apakah tulang punggung anak mengalami skoliosis atau tidak, dapat dilakukan pemeriksaan x-ray. Namun, bisa juga dengan cara sederhana di rumah, menggunakan metode Adam’s Bending Test.

Skoliosis secara statistic yang dilakukan Asosiasi Orthopedic Amerika, terdapat 2,5% -3% dari total populasi merupakan pasien Skoliosis yang secara statistik juga sama di Negara-negara lainnya. Jumlah yang sangat besar dengan pengetahuan akan deteksi dini yang sangat minim. Semakin dini terdeteksi, semakin mudah koreksi tulang yang dilakukan, semakin cepat pemulihan fungsi syaraf, otot dan semakin baik tumbuh kembangnya seorang anak.

Definisi dari Skoliosis adalah terdapat kebengkokan pada tulang belakang (dari tampak belakang) lebih dari 10 derajat Cobb’s Angle.  Bisa terdapat satu kurva, dua atau tiga kurva. Bisa juga terdapat Hyper kyphosis atau bongkok parah. Skoliosis bisa berkembang dimulai dari anak usia 3 tahun dan umur dini deteksi skoliosis bisa dimulai dari umur 3-4 tahun. Bisa dengan pemeriksaan fisik ataupun pemeriksaan medis menggunakan Rontgen / X-Ray. Sangat diperlukan pengobatan yang tepat, guna menghindarkan dia dari operasi dan konsekuensi yang lebih buruk. Pada fase pertumbuhan, anak seringkali tidak mengalami rasa sakit atau terganggu. Bahkan seringkali mereka tidak menyadari jika postur badan mereka miring, bungkuk dan kebiasaan duduk, posisi belajar dan berdiri anak dapat memperburuk dan merupakan penyebab dari skoliosis pada anak.

Pada usia 0-6 tahun pada anak kecil, dan usia 10-13 tahun (tergantung juga pada usia menstruasi / perubahan suara) pada usia remaja / puber, merupakan fase pertumbuhan tulang belakang yang sangat cepat (pertumbuhan badan – body length). Pada umur ini kita melihat tinggi badan anak berkembang dengan sangat cepat. Pada fase-fase umur ini, perhatian yang ekstra diperlukan dalam mengamati kesehatan tulang belakang anak. Bila ada asimetri atau ketidak seimbangan antara kiri dan kanan agar segera melakukan pemeriksaan, melakukan foto rontgen dan memilih pengobatan yang tepat, guna menghindari operasi.

growthspurttable

Berikut pemeriksaan fisik untuk deteksi dini skoliosis pada anak:

1. Pengamatan Fisik: perhatikan level ketinggian sisi kiri dan kanan pundak dan pinggang anak dengan posisi berdiri tegak. Bila terdapat salah satu sisi Pundak atau bahu anak lebih tinggi disertai pinggang/pinggul salah satu sisi juga lebih tinggi maka anak kemungkinan besar skoliosis.

scoliosis

2. Pemeriksaan Adam Test: Pemeriksaan ini sangat mudah, posisi berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar pinggang, kemudian membungkuk ke depan, dengan tangan dilepaskan bebas ke bawah. Maka dapat diamati dari belakang punggung anak, apakah terdapat satu sisi yang lebih tinggi / pendek dari sisi lainnya? Bila jawabannya iya, maka anak positif skoliosis.

ribsdeformity adam

3. Pemeriksaan Rontgen: (Untuk pemeriksaan ini, dikerjakan bila mendapati kedua test di atas positif).  Dengan meminta rujukan dokter untuk foto rontgen pada bagian Thoraco Lumbar AP (Anterior Posterior).  Bila terdapat kelengkungan pada tulang belakang lebih dari 10 derajat Cobb’s Angle maka anak positif dan secepatnya dilakukan terapi untuk pengontrolan perkembangan derajat dan pemulihannya.

Penatalaksanaan yang utama pada scoliosis infantile adalah non bedah, untuk pasien dengan resolving type yaitu dilakukan pemeriksaan fisis dan radiologi tiap 3-6 bulan, untuk progressive type maka penggunaan gips atau brace merupakan pilihan. Pada anak-anak yang masih muda, pemberian gips secara bertahap dengan anestesi umum sampai cukup besar untuk ortoshis. Interval antara penggunaan gips ditentukan dengan pertumbuhan rata-rata anak tapi biasanya penggantian gips dibutuhkan selama 2-3 bulan. Penggunaan penyangga (brace) di pakai sampai terjadi stabilisasi kurva minimal 2 tahun. Penggunaan brace juga dapat dengan jenis Milwaukee Brace (Cervical-Thoracic-Lumbar-Sacral-Orthosis) atau Boston Brace (Thoracic-Lumbar-Sacral-Orthosis). Jika kurva besar atau bertambah walaupun dengan orthosis, pembedahan stabilisasi tetap dibutuhkan.

001OYEDYgy70ocI0e3Q66690 001OYEDYgy70ocHrNMBe1690

Skoliosis pada anak / balita bisa diobati, asal dari dini dideteksi dan pengobatan tepat dengan brace dan pengawasan berkala. Pada umur 7 tahun bisa belajar Program Schroth, Fisiologic tubuh dan Aktifitas Hidup Sehari-hari yang benar (seperti cara duduk, berjalan, berdiri, posisi belajar, dll).

Bahan bacaan:

Hawes M (2006). “Impact of spine surgery on signs and symptoms of spinal deformity”. Pediatric Rehabilitation 9 (4): 318–39

Weiss, HR; Lohschmidt, K; El-Obeidi, N; Verres, C (1997). “Preliminary results and worst-case analysis of in patient scoliosis rehabilitation”. Pediatric rehabilitation 1 (1): 35–40

Weiss H.F. (2003). “Rehabilitation of adolescent patients with scoliosis – What do we know? A review of the literature”. Pediatric Rehabilitation 6 (3): 183–194.

DOWNLOAD PDF VERSION

1518103358140

imficover

test1
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *