PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis)

2 Apa itu PPOK? PPOK merupakan salah satu penyakit tidak menular utama, yang agak jarang terekpose karena kurangnya informasi yang diberikan. Menurut WHO,2016 PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) atau COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) adalah penyakit paru-paru yang ditandai dengan penyumbatan terus menerus pada aliran udara dari paru-paru, penyakit ini mengancam kehidupan karena akan mengganggu pernapasan normal dan tidak sepenuhnya reversibel. Mencakup bronkitis kronis dan emfisema. Besar prevalensi PPOK di negara-negara Asia Tenggara sendiri diperkirakan 6,3% dengan prevalensi tertinggi terdapat di Vietnam (6,7%) dan China (6,5%). Tingkat Keparahan PPOK Tingkat keparahan PPOK diukur dari skala sesak napas. Menurut American Thoracic Society (ATS) penggolongan PPOK berdasarkan derajat obstruksi saluran napas yaitu ringan, sedang, berat dan sangat berat. Gejala ini ditandai dengan sesak napas pada penderita yang dirinci sebagai berikut : a) Skala 0 dengan tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat b) Nilai 1 skala ringan apabila terganggu oleh sesak napas saat bergegas ketika berjalan atau sedikit mendaki serta pengukuran spirometri menunjukkan nilai VEP1 ≥ 50 % c) Nilai 2 skala sedang apabila berjalan lebih lambat daripada orang lain yang sama usia karena sesak napas, atau harus berhenti sesaat untuk bernapas pada saat berjalan walau jalan mendatar d) Nilai 3 skala berat apabila harus berhenti bila berjalan 100 meter atau setelah beberapa menit berjalan e) Nilai 4 skala sangat berat apabila sesak napas tersebut menyebabkan kegiatan sehari-hari terganggu atau sesak napas saat menggunakan atau melepaskan pakaian. 7 Pada penderita PPOK derajat berat sudah terjadi gangguan fungsional sangat berat serta mem-butuhkan perawatan teratur dan spesialis respirasi. Faktor Risiko Beberapa faktor risiko antara lain 1. Pajanan dari partikel antara lain : a) Merokok: Merokok merupakan penyebab PPOK terbanyak (95% kasus) di negara berkembang. Perokok aktif dapat mengalami hipersekresi mucus dan obstruksi jalan napas kronik. Dilaporkan ada hubungan antara penurunan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dengan jumlah, jenis dan lamanya merokok. Studi di China menghasilkan risiko relative merokok 2,47 (95% CI : 1,91-2,94). Perokok pasif juga menyumbang terhadap symptom saluran napas dan PPOK dengan peningkatan kerusakan paru-paru akibat menghisap partikel dan gas-gas berbahaya. Merokok pada saat hamil juga akan meningkatkan risiko terhadap janin dan mempengaruhi pertumbuhan paru-parunya. b) Polusi indoor: Polutan indoor yang penting antara lain SO2, NO2 dan CO yang dihasilkan dari memasak dan kegiatan pemanasan, zat-zat organik yang mudah menguap dari cat, karpet, dan mebelair, bahan percetakan dan alergi dari gas dan hewan peliharaan serta perokok pasif. WHO melaporkan bahwa polusi indoor bertanggung jawab terhadap kematian dari 1,6 juta orang setiap tahunya. c) Polusi outdoor: polusi udara mempunyai pengaruh buruk pada VEP1, inhalan yang paling kuat menyebabkan PPOK adalah Cadmium, Zinc dan debu. Beberapa penelitian menemukan bahwa pajanan kronik di kota dan polusi udara menurunkan laju fungsi pertumbuhan paru-paru pada anak-anak. d) Polusi di tempat kerja: polusi dari tempat kerja misalnya debu-debu organik (debu sayuran dan bakteri atau racun-racun dari jamur), industri tekstil (debu dari kapas) dan lingkungan industri (pertambangan, industri besi dan baja, industri kayu, pembangunan gedung), bahan kimia pabrik cat, tinta, sebagainya diperkirakan mencapai 19%. 2. Genetik (defisiensi Alpha 1-antitrypsin): Faktor risiko dari genetik memberikan kontribusi 1 – 3% pada pasien PPOK. 3. Riwayat infeksi saluran napas berulang :Infeksi saliran napas akut adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan, hidung, sinus, faring, atau laring. Penyakit ini terbanyak diderita anak-anak. Penyakit saluran pernafasan pada bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa, dimana ada hubungan dengan terjadinya PPOK. 4. Gender, usia, konsumsi alkohol dan kurang aktivitas fisik: Studi pada orang dewasa di Cina didapatkan risiko relative pria terhadap wanita adalah 2,80 (95% C I ; 2,64-2,98). Usia tua RR 2,71 (95% CI 2,53-2,89). Konsumsi alkohol RR 1,77 (95% CI : 1,45 – 2,15), dan kurang aktivitas fisik 2,66 (95% CI ; 2,34 – 3,02). 4 Problematika PPOK dalam dunia Fisioterapi Penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyakit sistemik yang mempunyai hubungan antara keterlibatan metabolik, otot rangka dan molekuler genetik. Keterbatasan aktivitas merupakan keluhan utama penderita PPOK yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Disfungsi otot rangka merupakan hal utama yang berperan dalam keterbatasan aktivitas penderita PPOK, termasuk pasien yang berumur > 40 tahun akan menyebabkan disabilitas. Padahal mereka masih dalam kelompok usia produktif namun tidak dapat bekerja maksimal karena sesak napas yang kronik. 6 Manifestasi sistemik PPOK  Inflamasi sistemik  penurunan berat badan,  peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler,  osteoporosis,  depresi 5 Dampak PPOK Sesak napas dan pola sesak napas yang tidak selaras akan menyebabkan pasien PPOK sering menjadi panik, cemas dan akhirnya frustasi. Gejala ini merupakan penyebab utama pasien PPOK mengurangi aktivitas fisiknya untuk menghindari sesak napasnya. Penurunan massa sel tubuh mencapai >40% dari metabolisme jaringan lunak (tissue) secara aktif merupakan manifestasi sistemik yang penting pada PPOK. Massa lemak bebas yang hilang akan mempengaruhi proses pernafasan, fungsi otot perifer dan ststus kesehatan. Penurunan berat badan memberikan efek negatif pada prognosis pasien PPOK. PPOK merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler yang diakibatkan oleh proses inflamasi sistemik dan jantung merupakan salah satu organ yang sangat dipengaruhi oleh progresitas PPOK. PPOK merupakan penyebab utama hipertensi pulmoner dan korpulmonal yang memberikan kontribusi 80 – 90% dari seluruh kasus penyakit paru. Hipertensi pulmoner pada PPOK terjadi akibat efek langsung asap rokok terhadap pembuluh darah intrapulmoner. Hipertensi pulmoner pada PPOK biasanya disertai curah jantung normal dan insidens hipertensi pulmoner diperkirakan 2 – 6 per 1.000 kasus. Osteoposrosis yang terjadi pada pasien PPOK disebabkan faktor seperti malnutrisi yang menetap, merokok, penggunaan steroid dan inflamasi sistemik. 3 Intervensi Fisioterapi untuk penderita PPOK 1. Nebulizer Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi aerosol stabil. Bersamaan dengan cairan dapat diberikan juga obat bronkodilatator atau kortikosteroid. Pada eksaserbasi akut terapi oksigen merupakan hal yang pertama diberikan dengan tujuan untuk memperbaiki hipoksemi dan mencegah keadaan yang mengancam jiwa (Caia Francis, 2008). 2. Chest Fisioterapi Yaitu upaya untuk membersihkan jalan napas dari mukus/ sekresi yang berlebih. Chest fisioterapi terdiri dari breating exercise, postural drainage, perkusi/ tapotement dan active exercise. Teknik breathing exercise dapat mengurangi sesak napas karena dapat meningkatkan volume paru, meningkatkan dan retribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap berkembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, meningkatkan kekuatan daya tahan serta efisiensi dari otot – otot pernapasan sehingga paru – paru dapat bekerja secara maksimal dan sesak napas berkurang (Tirta, 2011). Mobilisasi sangkar thorak dapat meningkatkan volume inhalasi dan membantu meningkatkan aliran udara masuk melalui saluran ventilasi colateral. Latihan sangkar thorak yang dilakukan seacara verbal dan stimulasi taktil, penguluran secara cepat dan ditambah tahanan yang diberikan melalui tangan terapis dengan mengambil keuntungan memanjangnya ketegangan secara optimal pada oto otot inspirasi sehingga dapat memperbaiki inspirasi maksimal (Suseno,2011). 3. Infra merah Infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 – 4.000.000 A. Infra merah berfungsi untuk pemanasan jaringan dan rileksasi otot-otot pernafasan baik itu otot-otot inspirasi maupun ekspirasi yang mengalami spasme dan pemendekan akibat proses ventilasi yang terganggu (ATS, 2005). 4. Breathing exercise dengan pursed lips breathing Pernapasan pursed-lip dapat membantu mengontrol jumlah pernafasan (rate respirasi) dan napas pendek. Menurut penelitian Roberto Bianchi et al., bahwa pernapasan pursed lips dapat meningkatkan volume ekspirasi akhir dan meningkatkan inspirasi akhir. Menurut Dechman dan Wilson (2004) bahwa pernapasan Pursed lips memperlambat laju pernapasan, dan mengurangi penurunan tekanan resistif di saluran udara, sehingga mengurangi penyempitan saluran napas selama ekspirasi. Penurunan penyempitan saluran napas dapat menurunkan dyspnea ketika menggunakan teknik ini. Penelitian oleh Spahija, Marchie, Grassino (2005) bahwa latihan pernapasan pursed lips untuk pasien PPOK akan merangsang pola pernapasan lambat dan lebih baik dilakukan saat istirahat. Meskipun pernapasan pursed lips selama latihan mampu menghilangkan dyspnea dengan mengurangi endexpiratory lung volume (EELV) pada beberapa pasien, ia juga bisa tidak efektif atau bahkan merugikan dyspnea pada orang lain ketika Vt nilai meningkat, disampaikan pula gabungan di end-inspiratory lung volume (EILV), end-expiratory lung volume (EELV), tidal volume (Vt), dan breathing frequency (fB) menyumbang 61% dari varians dalam perubahan dyspnea. Menurut Holland, et al. ( 2012) latihan pernapasan untuk orang-orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) bertujuan untuk mengubah perekrutan otot pernafasan, meningkatkan kinerja otot pernafasan dan mengurangi dispnea. Dalam sebuah penelitian Pinto, et al. (2014) disimpulkan bahwa latihan pernapasan pursed lips mempromosikan manfaat dalam kualitas hidup, sesak napas dalam aktivitas sehari-hari, dan kapasitas latihan pada pasien dengan PPOK berat dan sangat berat. Pernapasan pursed lip sebagai pulmonary rehabilitation (PR) harus dianggap sebagai bagian dari pengobatan untuk pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit bahkan pada PPOK yang berat.
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *