Jumper’s Knee

Suka olahraga voli? Basket? Atau mungkin sepak bola? Tapi saat melompat,lari dan berjalan lutut terasa sakit dan bengkak ya? Apa karna ada osteoartritis di lutut??? Eits,jangan berpikir jauh dulu! Kenalin dulu nih kondisi cedera yang sering dialami oleh atlet-atlet. Jumper’s knee atau Patellar Tendonitis merupakan kondisi klinis terkait adanya penggunaan otot-otot berlebihan,umumnya terjadi karna faktor olahraga yang berlebih, dimana nyeri tersebut terlokalisir di bagian distal paha depan (otot quadrisep) ke patela atau tendon patela bagian proksimal (Visnes, 2014). Jumper’s Knee merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan pembengkakan tendon patella.Tendon patela menghubungkan antara tempurung lutut (patella) dengan tulang tibia. Apabila jumper’s knee tidak segera ditangani, maka akan mengakibatkan terjadi robekan di tendon patella. (Rochester, 2017) Jumper’s knee umumnya sering terjadi pada bagian proksimal tendon patela (80-95%), bahkan beberapa telah melaporkan bahwa sampai 25% kasus jumper’s knee terletak di distal tendon paha depan. Prevalensi jumper’s knee sangat tinggi, sampai 40-50% pada kasus olahraga yang disebabkan oleh penggunaan otot ekstensor kaki yang tinggi dengan kecepatan dan tenaga yang besar, seperti olahraga voli, bola basket, sepak bola dan atletik. (Visnes, 2014) Apa sih penyebab terjadi Jumper’s Knee? Jumper’s Knee disebabkan oleh penggunaan sendi lutut berlebihan, seperti sering melompat pada permukaan yang keras. Biasanya karna cedera saat olahraga dengan kontraksi otot kaki dan kekuatan saat menumpu di tanah. Apabila dilakukan terus menerus, akan mengakibatkan robekan (strain) pada tendon dan muncul inflamasi pada tendon patella. (Rochester, 2017) Tanda dan gejala
  • Nyeri dan tenderness di sekitar tendon patela
  • Bengkak
  • Sakit saat melompat, berlari, atau berjalan
  • Sakit saat membungkuk atau meluruskan kaki
  • Ada tenderness dibagian belakang bawah patella (Rochester, 2017)
Jumpers Knee Bagaimana cara mendiagnosa adanya jumper’s knee?
  • Uji fisik
  • X-Ray
  • MRI
  Bagaimana penanganan fisioterapi? Pada fase akut:
  • Hindari aktivitas yang mengakibatkan peningkatan tekanan pada tendon patella
  • Konsumsi obat Nonsteroidal Anti-Inflammatory (NSAID,seperti ibuprofen atau naproxen)
  • Cryotherapy (kompres es) selama 20-30 menit dilakukan 4-6 kali per hari
  • Evaluasi ROM hip, knee,dan ankle joint.
  • Stretching otot-otot flexors hip dan knee (hamstrings, gastrocnemius, iliopsoas, rectus femoris, adductors),otot-otot extensors hip dan knee (quadriceps, gluteals), iliotibial band, dan patellar retinaculum.
  • Strengthening atau penguatan dengan gerakan closed kinetic chain dan eccentric exercise (single-leg squat descents)
  • Ultrasonografi (untuk mengurangi gejala nyeri)
  • Patellofemoral brace dengan potongan patellar dan lateral stabilizer atau taping McConnell dapat memperbaiki jalannya patela dan memberikan stabilitas melalui pembesaran proprioseptif. (Garrett Scott Hyman, 2015)
Pada fase kronis
  • Operasi lutut
  • Penggunaan brace
  Sumber : https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=85&contentid=P00922 Hyman, Garrett Scott, MD, MPH, Gerard A Malanga, MD. 2015.  Jumper's Knee Treatment & Management. http://emedicine.medscape.com/article/89569-treatment#d10. Diambil pada hari Minggu 11 Juni 2017 pukul 15.30 WIB Visnes, Håvard. 2014. Risk Factors for Jumper’s Knee. Bergen: Oslo Sports Trauma Research Center.
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *