Cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament)

1 ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT merupakan salah satu ligamen yang berada di sendi lutut dan berfungsi mengontrol serta menahan gerakan lutut kearah depan (anterior) dan kearah samping (lateral).
  • Cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament) itu?
Cedera ACL terjadi ketika ligamen cruciatum anterior didalam sendi lutut mengalami perobekan atau bahkan terputus total. Cedera sering terjadi ketika adanya penghentian dan perubahan arah mendadak serta memijakan kaki dengan tekanan kuat pada sendi lututnya. Kebanyakan kasus cedera ACL terjadi selama aktivitas olahraga dan kebugaran. 6
  • Faktor resiko
Pada atlit yang memerlukan skill kelincahan seperti sepak bola, basket, voli, tennis  memiliki tingkat resiko tinggi terjadi cedera ACL. Selain itu wanita juga beresiko tinggi karena ketidakseimbangan kekuatan otot terutama pada otot-otot paha, otot quadrisep pada wanita cenderung lebih kuat daripada otot hamstring sehingga tekanan pada ACL lebih besar.
  • Mekanisme cidera
Mekanisme yang paling sering dilaporkan pada ruptur ACL yaitu pasien pada waktu bermain bola badannya maju ke depan, dengan hip fleksi dan adduksi, femur internal rotasi, lutut fleksi pada 20-300, tibia internal rotasi dan kaki pronasi. Lalu pasien berusaha melakukan aselerasi atau deselerasi secara mendadak, biasanya dengan perubahan secara langsung, pola gerakannya mirip dengan langkah ke samping pada permainan rugby atau ski. Pada waktu injury pasien biasanya mendengar ’pop’ atau bunyi keras/kertakan dan sensasi lutut terpisah. Kemudian biasanya disertai dengan nyeri yang tajam/kuat dalam waktu pendek, terkadang merasa mampu untuk bermain kembali dalam beberapa menit. Hal selanjutnya yang terjadi adalah adanya perdarahan dalam sendi lutut, swelling yang besar pada lutut, dengan bunyi aspirasi dalam darah. Swelling ini berkembang dalam 72 jam. Perkembangan joint haemarthrosis berhubungan secara signifikan dengan adanya ruptur ACL. 5
  • Derajat Cedera
Mayoritas cidera lutut yang terjadi tersebut adalah cidera pada ligamen khususnya ligamen collateral medial. Cidera pada ligamen ini mempunyai 3 (tiga) derajat yaitu : 1) Derajat 1: Tidak terjadi laxity ketika diberikan tekanan. 2) Derajat 2: Terjadi laxity ringan dan robekan sebagian pada ligamen. 3) Derajat 3: Semua serabut ligamen menga-lami kerobekan.
  • Masalah yang sering muncul
Pada post operasi arthroscopi dengan rekonstruksi ACL permasalahan yang dapat timbul antara lain:
  • adanya nyeri,
  • oedem,
  • gangguan gerak dan fungsi,
  • atrofi dan kelemahan otot,
  • gangguan pola jalan
  • hambatan fungsional sendi lutut lainnya.
 
  • Tanda dan gejala
Ada beberapa tanda-tanda yang mengindikasikan adanya cidera serius pada ligamen sendi lutut yaitu: 1) Deformitas pada lutut. 2) Ketidakmampuan menumpu berat badan. 3) Pembengkakan atau penumpukan cairan pada lutut. 4) Ketidakmampuan meluruskan lutut secara penuh (mengunci lutut). 5) Tenderness berat ketika dilakukan tekanan pada lutut.  4
  • Komplikasi
Dalam jangka waktu yang lama cedera ini dapat menyebabkan osteoartritis
  • Pemeriksaan
Pada dasarnya setiap muncul keluhan yang diakibatkan karena cidera baik ringan maupun berat selalu harus dilakukan asesment (pemeriksaan). Pemeriksaan bisa bersifat umum dan bersifat khusus. Pemeriksaan umum pada cidera liga-men collateral medial sendi lutut yaitu : 1) Nyeri (derajat sakit). 2) Ada tidaknya keterbatasan lingkup gerak sendi (ROM). 3) Kualitas bengkak (oedem). 4) Kekuatan otot penggerak utama gerakan sendi lutut yang berhuungan langsung dengan cidera ligamen collateral medial, misalnya: m. grasilis, m. semiteniosus dan m. sartorius yang tergabung dalam pes anserinus. 5) Gait analisis (pola jalan). 3 Sedangkan pemeriksaan yang lebih bersifat khusus untuk mengetahui adanya ketidak-stabilan sendi lutut adalah dengan tes hypermobilitas valgus pasif (positif). Namun demikian diperlukan juga peme-riksaan gerak yang lain pada lutut yang memungkinkan terjadinya cidera jaringan lunak lain di lutut seperti: 1) Tes hyperekstensi. 2) Tes gravity Sign. 3) Tes laci sorong. 4) Tes endorotasi-eksorotasi pasif. 5) Tes lachmane. 6) Tes pivot shift.  
  1. Lachman test,
Posisi : tidur terlentang (supine lying) Action : fleksi knee 300, menjepit maleolus dengan elbow dan jari bertumpu tidak dikaitkan pada tuberositas tibia Lachman
  1. Anterior Drawer test
Posisi : tidur terlentang (supine lying) dengan fleksi Hip dan Knee 450 Action : terapis memfiksasi pada tuberositas tibia pasien kemudian tarik kearah anterior Drawer Test
  1. Pivot shift test
Posisi : tidur terlentang (supine lying) dan fleksi knee Action : terapis memfiksasi ankle dan knee atlit bagian posterior kemudian fleksi knee digerakkan secara pelan-pelan kearah ekstensi dan endorotasi Pivot Shift Test
  • Penatalaksanaan
1) Stadium awal Berlangsung sesaat setelah terjadinya cidera sampai 2-3 hari, yang ditandai dengan aktualitas tinggi. Fisioterapi yang diberikan:
  1. Ice pack/terapi dingin
Untuk mengurangi perdarahan dan bengkak, dilakukan selama 2 kali 24 jam dalam durasi pendek dan singkat (short time periode) dan perhatikan sensasi kulit pasien.
  1. Rest/istirahat
Dilakukan selama 24-36 jam pertama setelah injury untuk mencegah dan mengurangi atau mengantisipasi keluhan lebih lanjut yang memperberat kondisi sprain. Pada saat rest/istirahat termasuk mengurangi aktifitas provokasi seperti: naik turun tangga, duduk pada bangku yang rendah, penggunaan peralatan yang melibatkan kontraksi maksimal pada sendi lutut.
  1. Kompressi
Dengan menggunakan elastis bandage atau splint kurang lebih 10 cm pada bagian proksimal dan distal lutut.
  1. Elevasi
Untuk mencegah keadaan statik cairan dalam jaringan
  1. Ambulasi dengan menggunakan double axillar kruk untuk beberapa hari.
  2) Stadium lanjut   Berlangsung setelah 2-3 hari atau setelah stadium awal berakhir, yang ditandai dengan menurunnya tingkat aktualitas jari-ngan. Fisioterapi yang diberikan:
  1. a) Mobilisasi lutut dengan ROM penuh segera dilakukan setelah nyeri dan bengkak berkurang, kurang lebih setelah 2–3 hari. Bentuk mobilisasi yang diberikan antara lain: gentle auto assisted exercise untuk memper-tahankan ROM, Isometrik Quadriceps hamstring dan otot lainnya untuk mempertahankan kekuatan otot.
 
  1. b) Friction toleransi setelah perdarahan berhenti (setelah tiga hari) untuk men-cegah dan mengurangi jaringan parut yang berlebihan dan memperbaiki/ mem-percepat proses regenerasi dan mening-katkan vaskularisasi lokal.
 
  1. c) Ambulasi dengan weight bearing masih menggunakan elastis bandage/ tubigrips dapat diberikan setelah 3–5 hari cidera.
 
  1. d) Jogging toleransi dapat dicoba setelah kurang lebih satu minggu.
 
  1. Proprioceptive exercise dilakukan dengan latihan berjalan menapak parsial untuk mengembalikan joint sense. Latihan ini diberikan bila kondisi penderita sudah optimal dan toleransi terhadap pembeba-nan ringan sampai sedang.
  Secara umum penatalaksanaan fisio-terapi pada kasus cidera ligamen collateral medial sendi lutut bertujuan untuk: 1.) Mengurangi nyeri dan bengkak 2.) Mencegah deformitas dan proteksi terhadap sendi 3.) Mencegah perlengketan sendi (stiffness) 4.) Mencegah atropi otot 5.) Mengembalikan dan meningkatkan kekua-tan otot 6.) Meningkatkan stabilisasi lutut 7.) Memulihkan keyakinan penderita  
  • Treatment
Terdapat dua jenis treatment untuk injury ligamen cruciatum anterior, yaitu treatment konservatif dan treatment operatif. Cedera ligamen yang tidak dapat disembuhkan dengan cara konservatif yaitu apabila:
  1. Kerobekan bersifat hebat baik akut ataupun kronik insufisiensi dari ACL,
  2. tes pivot-shift abnormal,
  3. terdapat penguncian yang berulang,
  4. melalui MRI atau pemastian arthroskopik adanya robekan meniscus,
  5. gejala ’’lutut lepas’’ yang tidak tertahankan,
  6. diagnosis atau tingkat cedera ligamen tetap meragukan,
  7. kerobekan partial yang menyebabkan limitasi aktivitas fungsional pada individu yang aktif,
  8. manajemen konservatif dari kerobekan ACL gagal.
Tindakan pembedahan dari ligamen cruciatum anterior yang robek biasanya dilakukan dengan cara rekonstruksi dalam arthroscopi. Arthroskopi adalah suatu tindakan operasi untuk melihat, memeriksa keadaan dalam sendi dengan menggunakan teleskop fiberotik dan memasukkan cairan yang memung-kinkan untuk visualisasi struktur sendi tersebut. Problem-problem yang diuraikan di atas merupakan bidang kajian fisioterapi. Problem fisioterapi yang difokuskan adalah oedem. Peran fisioterapi pada cidera olah raga yaitu untuk mengembalikan gerak maksimal dan kemampuan fungsional optimal akibat cidera olah raga, sehingga pasien dapat melakukan aktivitasnya olahraganya kembali seperti sebelum mengalami cedera. Dengan demikian seorang fisioterapi dituntut untuk memahami tentang cidera olah raga serta penanganannya secara baik dan benar. Beberapa teknik penanganan fisioterapi yang dapat diberikan pada penderita post arthroscopi rekonstruksi ACL dengan keluhan oedem yaitu cold pack, IR, dan active assisted exercise.
  • Modalitas yang dapat diberikan
  1. InfraRed
  2. Hot Pack
  3. Cold Pack
  4. Micro Wave Diathermy
  5. Ultra Sound
2
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *