OSTEOPOROSIS

ke1FAKTOR-FAKTOR RESIKO OSTEOPOROSIS DAN UPAYA

PENCEGAHANNYA

          Osteoporosis adalah kelainan penulangan akibat gangguan metabolisme dimana tubuh tidak mampu menyerap dan memanfaatkan zat-zat yang diperlukan untuk proses pematangan tulang.  Pada osteoporosis terjadi pengurangan masa/jaringan tulang per unit volume tulang dibandingkan dengan keadaan normal. Manusia lanjut usia (lansia) beresiko menderita osteoporosis, sehingga setiap patah tulang pada lansia perlu diasumsikan sebagai osteoporosis, apalagi jika disertai dengan riwayat trauma ringan dan kesehatan seperti mata, jantung, dan fungsi organ lain. Padausia 60-70 tahun, lebih dari 30% perempuan menderita osteoporosis dan insidennya meningkat menjadi 70%padausia 80 tahun ke atas. Hal ini berkaitan dengan defisiensi estrogen pada masa menopause dan penurunan massa tulang karena proses penuaan. Pada laki-laki osteoporosis lebih dikarenakan proses usia lanjut, sehingga insidennya tidak sebanyak perempuan.
  • Faktor Resiko Osteoporosis
Resiko paling tidak menguntungkan penderita osteoporosis adalah terjadinya fraktur tulang yang apabila tidak ditangani dengan tuntas sampai dengan rehabilitasi medik,maka pasien akan mengalami disabilitas, gangguan fungsi aktivitas dari tingkat sederhana sampai berat dan mengalami keterbatasan dalam bersosialisasi yang ujungnya dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Faktor resiko osteoporosis dapat dibedakan menjadi faktor resiko yang sifatnya tidak dapat diubah dan yang dapat diubah. Untuk yang tidak dapat diubah diantaranya 2: Gender perempuan: Padaumumnya perempuan mempunyai tulang yang lebih ringan dan lebih kecil dibandingkan laki-laki, Usia lanjut, Riwayat osteoporosis dalam keluarga:  Umumnya tipe perawakan tubuh dalam anggota keluarga saling mirip satu dengan lainnya.  Ras: Perempuan Asia dan Kaukasia lebih mudah terkena osteoporosis dibandingkan perempuan Afrika. Bentuk badan: Semakin kecil dan kurus tubuh seseorang, semakin beresiko mengalami osteoporosis. Beberapa penyakit seperti anoreksia, diabetes, diare kronis,penyakit ginjal dan hati. Sedangkan untuk faktor resiko osteoporosis yang dapat diubah diantaranya adalah: Berhenti merokok, Kurangi konsumsi alkohol, Segera atasi kekurangan asupan kalsium,Lakukan program latihan fisik, Menambah berat badan bagi yang kekurangan berat badan (kurus), Flindari penggunaan obat-obatan steroid, fenobarbital, fenitoin.ke2
  • Upaya Pencegahan Osteoporosis
Osteoporosis merupakan penyakit tersembunyi, terkadang tanpa gejala dan tidak terdeteksi, sampai timbul gejala nyeri karena mikrofraktur atau karena patah tulang anggota gerak. Karena tingginya morbiditas yang terkait dengan patah tulang, makaupaya pencegahan merupakan prioritas. Pencegahan osteoporosis dapat dibagi dalam 3 kategoriyaitu primer, sekunder dan tersier (sesudah terjadi fraktur)
  • Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya terbaik serta dirasa paling murah dan mudah. Yang termasuk ke dalam pencegahan primer adalah: Kaksium Mengkonsumsi kalsium cukup baik dari makanan sehari-hari ataupun dari tambahan kalsium,padaumumnya aman kecuali pada pasien dengan hiperkalsemia atau nefrolitiasis. Jenis makanan yang cukup mengandung kalsium adalah sayuran hijaudanjeruk sitrun. Sedangkan diet tinggi proteinhewani dapat menyebabkankehilangan kalsium bersama urin. Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa perempuan yang melakukan diet vegetarian lebih dari 20 tahun mengalami kehilangan mineral tulang lebih rendah yaitu sebesar 18% dibandingkan perempuan non vegetarian sebesar 35%6.
  • Latihan Fisik (Exercise)
Latihan fisik harus mempunyai unsur pembebanan pada anggota tubuh/ gerak dan penekanan pada aksis tulang seperti jalan, joging, aerobik atau jalan naik turunbukit. Olah raga renang tidak memberikan manfaat yang cukup berarti. Sedangkan jika latihan berlebihan yang mengganggu menstruasi (menjadi amenorrhea) sangat tidak dianjurkan karena akan mengakibatkan terjadinya peningkatan kehilangan massa tulang. Demikian pula pada laki-laki dengan latihan fisik berat dan berat dapat terjadi kehilangan massa tulang. Hindari faktor yang dapat menurunkan absorpsi kalsium, meningkatkan resorpsi tulang, atau mengganggu pembentukan tulang, seperti merokok, minum alkohol dan mengkonsumsi obat yang berkaitan dengan terjadinya osteoporosis. Kondisi yang diduga akan menimbulkan osteoporosis sekunder, harus diantisipasi sejak awalke4
  • Pencegahan Sekunder
Konsumsi kalsium tambahan konsumsi kalsium dilanjutkan pada periode menopause, 1200-1500 mg per hari, untuk mencegah negative calcium balance. Pemberian kalsium tanpa penambahan estrogen dikatakan kurang efektif untuk mencegah kehilangan massa tulang pada awal periode menopause. Penurunan massa tulang terlihat jelas pada perempuan menopause yang asupan kalsiumnya kurang dari 400 mg per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kalsium bersama dengan estrogen dapat menurunkan dosis estrogen yang diperlukan sampai dengan 50%<2).
  • Estrogen Replacement Therapy (ERT)
Semua perempuan padasaat menopause mempunyai resiko osteoporposis. Karna itu dianjurkan memakai ERT pada mereka yang tidak ada kontraindikasi.
  • Latihan fisik (Exercise)
Latihan fisik bagi penderita osteoporosis bersifat spesifik dan individual. Prinsipnya tetap sama dengan latihan beban dan tarikan pada aksis tulang. Perlu diperhatikan berat ringannya osteoporosis yang terjadi karena hal ini berhubungan dengan dosis dan cara gerakan yang bersifat spesifik tersebut. Latihan tidak dapat dilakukan secara masal karena perlu mendapat supervisi dari tenaga medis/paramedis terlatih individu per individu. Pemberian Kalsitonin Kalsitonin bekerja menghambat resorpsi tulang dan dapat meningkatkan massa tulang apabila digunakan selama 2 tahun. Nyeri tulang juga akan berkurang karena adanya efek peningkatan stimulasi endorfin. Pemakaian kalsitonin diindikasikan bagi pasien yang tidak dapat menggunakan ERT, pasienpascamenopause lebih dari 15 tahun, pasien dengan nyeri akibat fraktur osteoporosis, dan bagi pasien yang mendapat terapi kortikosteroid dalam waktu lama.
  • Terapi
Terapi yang juga diberikan adalah vitamin D dan tiazid, tergantung kepada kebutuhan pasien. Vitamin D membantu tubuh menyerap dan memanfaatkan kalsium. Dua puluh limah idroksi vitamin D dianjurkan diminum setiap hari bagi pasien yang menggunakan suplemen kalsium.ke5
  • Pencegahan Tersier
Setelah pasien mengalami fraktur osteoporosis, pasien jangan dibiarkan imobilisasi terlalu lama. Sejak awal perawatan disusun rencana mobilisasi mulai dari mobilisasi pasif sampai dengan aktif dan berfungsi mandiri. Beberapa obat yang mempunyai manfaat adalah bisfosfonat, kalsitonin, dan NSAID bila ada nyeri. Dari sudut rehabilitasi medik, pemakaian ortose spinal/korset dan program fisioterapi/okupasi terapi akan mengembalikan kemandirian pasien secara optimal.   Sumber:
  • Yatim, F. 2000. Osteoporosis Penyakit Kerapuhan Tulang Pada Lansia. Depkes RI,
  • Nuhonni, SA. 2000. Osteoporosis dan Pencegahannya. FKUI, Jakarta.
  • Nograhany, 2007. Osteoporosis, Si Pendiam yang Menyerang Pemalas. Available from: www.detikNews.comke6
Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *