Tortikolis

177854 1. Definisi Tortikolis berasal dari bahasa Latin  torta (twisted=terputar) , dan collum  (leher). Tortikolis merupakan kelainan kongenital dimana m.sternocleidomastoideus mengalami fibrosis dan gagal memanjang sementara tubuh anak terus tumbuh sehingga terjadi deformitas progresif. Tortikolis bisa juga diartikan sebagai istilah umum untuk berbagai kondisi dystonia kepala dan leher , yang menampilkan variasi tertentu dalam gerakan kepala ( komponen phasic ) ditandai dengan arah gerakan (horizontal , seolah-olah mengatakan " tidak" , atau vertikal , seolah-olah mengatakan " iya "). Tortikolis sering terjadi pada anak dan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu: bawaan, congenital Muscular Torticollis (CMT) dan yang didapat setelah lahir acquired torticollis.
  • Congenital Muscular Torticolis merupakan gangguan tortikolis yang paling sering ditemukan, yaitu kondisi keterbatasan gerakan leher kongenital atau bawaan sejak lahir,  dimana anak akan menahan atau memposisikan kepala pada satu sisi  dengan dagu mengarah pada sisi yang berlawanan.
  • Tortikolis yang didapat setelah lahir, merupakan keadaan dimana leher bayi selalu menoleh ke arah yang sama dan pergerakan leher terbatas yang terjadi beberapa bulan setelah kelahiran, dengan faktor penyebab yang lebih jelas yang mendasarinya, serta tidak terjadi komplikasi berupa asimetri wajah.
Pada tortikolis yang didapat setelah lahir, gejalanya hampir sama dengan tortikolis kongenital, yaitu leher bayi selalu menoleh ke arah yang sama dan pergerakan leher bayi yang terbatas. Perbedaannya adalah biasanya terjadi beberapa bulan setelah kelahiran, ada faktor penyebab yang lebih jelas yang mendasarinya dan tidak terjadi komplikasi berupa asimetri wajah. 177856 2. Etiologi Etiologi tortikolis terbagi menjadi etiologi lokal, etiologi kompensasi, dan etiologi sentral. Masing-masing akan dijelaskan dibawah ini :
  • Etiologi lokal
Pada orang dewasa, setiap abnormalitas atau trauma tulang servikal bisa menyebabkan tortikolis termasuk trauma minor (tegangan/regangan), fraktur, dislokasi, dan subluxasi, sering menyebabkan spasme dari otot leher. Penyebab lainnya yakni infeksi, spondylosis, tumor, jaringan parut. Selain itu, infeksi saluran nafas bagian atas dan infeksi jaringan lunak di leher bisa menyebabkan tortikolis sekunder terhadap kontraktur otot atau adenitis. Pada anak usia 2-4 tahun biasanya tortikolis sering disebabkan oleh abses retrofaringeal. Tortikolis juga bisa terjadi akibat infeksi yang mengikuti trauma atau infeksi di sekitar jaringan atau struktur leher termasuk faringitis, tonsillitis, epiglottitis, sinusitis, otitis media, mastoiditis, abses nasofaring, dan pneumonia lobus atas.
  • Etiologi kompensasi
Tortikolis sering merupakan mekanisme kompensasi dari penyakit atau symptom lain seperti strabismus dengan parese nervus IV, nistagmus kongenital, dan tumor fossa posterior.
  • Etiologi sentral
Tortikolis sering juga disebabkan oleh reaksi distonia sekunder terhadap obat-obatan seperti phenotiazin, metoclopramide, haloperidol, carbamazepine, phenytoin, and terapi L-dopa. Pada wamita usia 30-60 tahun idiopatik spasmodic tortikolis meningkat. Sedangkan, pada anak etiologinya torsion dystonia, drug-induced dystonia, dan cerebral palsy.   Selain beberapa etiologi di atas juga terdapat penyebab tortikolis konginetal yang tidak diketahui secara jelas, namun biasanya bayi dengan tortikolis memiliki riwayat:
  • Persalinan yang sulit (sungsang) dimana otot leher  -sternocleidomastoideus (SCM)- teregang, robek dan terjadi perdarahan. Penyembuhan yang terjadi membentuk jaringan ikat disertai pemendekan otot.
  • Posisi dalam rahim dimana aliran pembuluh darah balik dari SCM terhambat sehingga otot tersebut kurang mendapat suplai darah yang berakibat otot menjadi rusak dan digantikan oleh jaringan ikat.
177857 3. Patofisiologi
  • Congenital Torticollis
Tortikolis kongenital jarang dijumpai (insidensi <2%) dan diyakini disebabkan oleh trauma lokal pada jaringan lunak leher sebelum atau selama persalinan. Trauma otot sternokleidomastoideus saat proses persalinan menyebabkan fibrosis atau malposisi intrauterine yang menyebabkan pemendekan dari otot sternokleidomastoideus. Bisa juga terjadi hematom yang diikuti dengan kontraktur otot. Biasanya anak-anak seperti ini lahir dengan persalinan sungsang atau menggunakan forseps. Penyebab lain yang mungkin yakni herediter dan oklusi arteri atau vena yang menyebabkan fibrosis jaringan didalam otot sternokleidomastoideus.
  • Acquired Torticollis
Patofisiologi dari torticollis yang didapat adalah tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Spasme dari otot leher yang menyebabkan tortikolis merupakan hasil dari injury atau inflamasi dari otot cervical atau nervus kranialis dari proses penyakit yang berbeda. Tortikolis akut bisa disebabkan oleh trauma tumpul pada kepala dan leher atau dari kesalahan posisi saat tidur. Tortikolis akut biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari dampai minggu atau setelah menghentikan obat pada tortikolis akut yang disebabkan oleh obat-obatan seperti dopamine reseptor blocker, metoclopramide, phenytoin, carbamazepin. Atlantoaxial rotary subluxation (AARS) C1 pada C2 memiliki gejala klinis yang sama dengan tortikolis, biasanya terjadi pada anak-anak dan setelah trauma minor, operasi faring, proses inflamasi, atau infeksi saluran nafas bagian atas. Hal ini diduga dipicu oleh edema retropharyngeal menyebabkan kelemahan ligamen dan struktur di tingkat atlantoaxial, memungkinkan deformitas rotasi. Berbeda dengan tortikolis otot kongenital, kepala miring jauh dari otot sternokleidomastoideus yang terkena. Dikenal sebagai posisi "cock robin", kepala rotasi ke sisi yang berlawanan dengan dislokasi dan lateral fleksi ke arah yang berlawanan. Pasien juga dapat mengeluh sakit oksipital unilateral. Idiopatik spasmodik tortikolis (IST) adalah bentuk tortikolis yang dan progresif , diklasifikasikan sebagai dystonia fokus. Etiologi tidak jelas, meskipun diduga ada lesi thalamus. Hal ini ditandai dengan etiologi nontraumatic terdiri dari episodik tonik dan / atau kontraksi involunter klonik otot leher. Gejala berlangsung lebih dari 6 bulan dan menghasilkan cacat somatic dan psikologis.2 Benign paroxysmal tortikolis adalah kondisi pada bayi yang ditandai dengan episode berulang dari kepala miring dengan muntah, pucat, irritabilitas, ataksia, atau mengantuk dan biasanya terjadi dalam beberapa bulan pertama kehidupan dan akan sembuh dengan sendirinya. 2 Sebagai penyakit neurodegeneratif, tortikolis, atau cervical dystonia idiopatik, diyakini muncul dari kelainan sirkuit ganglia basalis yang berasal dari kerentanan selektif struktur ini untuk proses biokimia abnormal yang mengarah ke disfungsi neuronal. Beberapa indikasi keterlibatan sirkuit dopamine-secretingberasal dari temuan rendahnya tingkat metabolit dopamin dalam cairan serebrospinal (CSF). 177858 4. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis yang didapat dari pemeriksaan yaitu kepala miring ke arah yang sakit (setelah menyingkirkan penyebab lain seperti anomali tulang, diskitis, limfadenitis), leher menjadi tidak seimbang dan pendek pada bagian yang fibrosis, di sisi yang fibrosis telinga mendekati bahu, garis mata dan garis bahu membentuk sudut (normalnya sejajar), perkembangan muka dapat menjadi asimetris, dan terdapat benjolan berbatas tegas yang melibatkan satu atau kedua caput sternocledomastoideus. Benjolan ini bersifat firm, tidak nyeri, terdiri dari jaringan fibrotic dengan deposit kolagen dan migrasi fibroblast disekitar serat sternokleidomastoideus yang atrofi. Kelainan ini juga menghambat perkembangan motorik anak. Bayi menjadi susah telungkup, susah duduk, cenderung menggunakan satu tangan saja, susah untuk merangkak dan cenderung malas berjalan.   5. Prognosis Semakin muda usia pasien tortikolis, semakin baik prognosisnya. Hasil yang positif didapatkan pada sekitar 90% kasus yang melakukan latihan peregangan setiap hari dengan cara yang benar. Rekurensinya sekitar diaras 2%. Faktor prognostik yang negatif didapati pada kasus yang terdapat massa pada sternokleidomastoideus, rotasi awal dari posisi netral lebih dari 15 derajat, serta pengobatannya baru dimulai setelah usia satu tahun.4,6 Komplikasi dari operasi adalah cedera nervus aksesorius. Angka relapsnya mencapai 1.2%. Pada suatu studi didapatkan hasil setelah operasi 88.1% sangat baik, 8.3% baik, dan 3.6% cukup baik sampai kurang baik. Hasil operasi ini dipengaruhi oleh usia dan jarak rotasi leher. Waktu yang optimal untuk operasi adalah antara 1-4 tahun, meskipun hasil yang baik juga didapati pada usia pasien di atas 10 tahun saat operasi. 177859 6. Penanganan Fisioterapi
  1. Kompres hangat sebagai preliminary exercise
  2. Massage untuk mengatasi nyeri ataupun spasme pada otot sternocleidomastideus
  3. Passive stretchimg untuk mengatasi kontraktur otot sternocleidomastideus
  4. Pemasangan Cervical collar untuk memperbaiki kemampuan bayi untuk menahan pada posisi midline
  7. Home Program
  1. Letakkan mainan pada sisi di mana bayi harus memutar kepala untuk mengalihkan perhatian ke arah mainan ataupun meraih mainan tersebut
  2. Letakkan bayi di kasur dimana sisi yang sakit menghadap ke dinding, sehingga bayi harus  memutar kepalanya untuk melihat ke arah luar kasur.
  Apley, A. Graham dkk. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur. Jakarta : Widya Medika Chang et al. 2013. Case report: A Surgical Treatment for Adult Muscular Torticollis. Hindawi. Available athttp://www.hindawi.com/journals/crior/2013/965693/ [Accesed 16th May 2015] Angoules, et al. 2013. Congenital Muscular Torticollis: An Overview. Available at http://dx.doi.org/10.4172/2329-9126.1000105 [Accesed 16th May 2015
Share To :

One thought on “Tortikolis

  • Thanks for another informative web site. Where else could I get that kind of info written in such an ideal way? I’ve a project that I am just now working on, and I’ve been on the look out for such information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *